Rabu, 22 Maret 2017

6 Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat

Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Nusa Tenggara Barat terletak di dalam gugusan Sunda Kecil dan termasuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi yang biasa disingkat NTB ini memiliki 10 Kabupaten/Kota, dengan Ibukota terletak di Mataram.

Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi dalam tiga kelompok, YaItu Tari klasik Istana atau yang dikenal dengan Mpa’a Asi, Tarian Rakyat atau Mpa’a Ari Mai Ba Asi, serta tarian Donggo. Tarian Donggo adalah tarian yang dikreasi oleh masyarakat Donggo dan ditujukkan untuk upacara-upacara Adat. Sampai dengan saat ini tarian tersebut terus berkembang di Provinsi Nusa Tenggara Barat . Beberapa tarian bahkan  ada yang menjadi tari tarian khas NTB yang menjadi daya tarik pariwisata dari Provinsi ini. Dari berbagai tarian yang terdapat di Nusa Tenggara Barat, kali ini tradisikita akan merangkum 6 tari tradisional Nusa Tenggara Barat. Dan berikut adalah penjelasan dan gambar tari tarian daerah Nusa Tenggara Barat tersebut :

1. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Oncer

Tari Oncer adalah tarian khas suku sasak yang ada di daerah Lombok Nusa Tenggara Barat. Tarian Oncer diciptakan oleh Muhammad Tahir di desa Puyung, Lombok Tengah pada tahun 1960. 
Tari Oncer merupakan tarian bersama yang dimainkan oleh 3 kelompok. Masing - masing adalah kelompok penari kenceng yang terdiri dari 6 - 8 orang penari yang membaca kenceng, 2 orang pembawa gendang disebut penari gendang, dan 1 orang pembawa petuk yang disebut penari petuk.
Tarian Oncer tidaklah berdiri sendiri karena diakhir bagian ada gamelan Gendang Beleq dipukul sambil menari. Tarian Oncer terdiri atas tiga bagian yakni bagian pertama menggambarkan peperangan. Semua penari menari bersama-sama dengan gerakan-gerak tari tertentu. Yang pertama adalah gerak tinduk yakni gerak melangkah yang menggambarkan keberangkan ke medan perang, dalam gerakan ini gerak mengangkat kaki yang ditonjolkan. Kedua adalah gerak bukaq jebak, artinya membuka pintu. Gerakan ketiga adalah kadal nengos artika kadang yang menengok. Gerakan ini berarti suatu tanda kewaspadaan terhadap musuh dengan selalu melihat ke kiri kekanan serta kemuka dan belakang. Yang selanjutnya adalah gerak rebek taping dan tereq repoq. Dalam bagian ini diperagakan gerak bambu yang setengah tumbang karena tiupan angin. Nah, jika bagian pertama tarian diisi dengan cukup banyak gerakan, di bagian kedua dan ketiga tidak seperti itu. Di bagian ketiga inilah dilukiskan kondisi setelah usai perang yang ditandai dengan gerakan cempaka panclang (cempaka berguguran), keroton kombol (kembang sepatu kuncup) dan sandal kebak (kembang sandat yang mekar). Tari oncer dapat ditarikan oleh laki-laki atau perempuan, tetapi perannya tetap laki-laki. 
Alat musik yang digunakan tetabuhan Gendang Beleq adalah ceng-ceng, suling, rincik, gong, reong, dan gendang kecil. Menurut sejarah, konon Gendang Beleq baisa dipertunjukkan pada pesta kerajaan yang mengiringi pasukan yang berangkat perang atau datang dari medan perang. Kini, Gendang Beleq dijadikan sebagai tari penyambutan tamu, dan mempunyai struktur penyajian dengan diawali masuknya 2 orang penari gendang sehingga menampakkan tarian ini sangat gagah dan dinamis. Kemudian masuklah 4 hingga 6 penari oncer, sementara penari gendang mengambil posisi di samping kanan kiri sebagai latar belakang. Kemudian penari Oncer mengambil posisi duduk sambil menyanyi lagu Pampang Paoq. Diakhir tarian, penari Oncer keluar diikuti para penari gendang.

2. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Lenggo

Tari Lenggo adalah salah satu tari tradisional yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Pada awalnya tari lenggo ini merupakan tarian klasik yang hanya ditampilkan dilingkungan istana kerajaan Bima.
Tari Lenggo dapat dilakukan oleh penari pria dan penari wanita. Apabila ditarikan oleh penari wanita disebut dengan Tari Lenggo Mbojo. Sedangkan apabila ditarikan oleh para penari pria, disebut tari lenggo melayu. Para penari baik pria maupun wanita mengenakan kostum berupa pakaian tradisional Bima.
Tari Lenggo yang pertama kali diciptakan adalah Tari Lenggo Melayu. Tari Lenggo Melayu ini diciptakan oleh seorang mubalig dari Sumatera barat bernama Datuk Raja Lelo. Tarian ini awalnya diciptakan khusus untuk upacara adat Hanta Ua Pua yang diselenggarakan di Bima. Tari Lenggo Melayu ini dibawakan oleh para penari pria, sehingga masyarakat Bima menyebutnya Tari Lenggo Mone.
Terinspirasi dari Tari Lenggo Melayu tersebut, Sultan Abdul Khair Sirajuddin kemudian menciptakan sebuah tari yang dibawakan oleh penari putri yang dinamakan Tari Lenggo Mbojo, atau disebut juga Tari Lenggo siwe. Gerakan dalam Tari Lenggo Mbojo ini merupakan hasil kreasi dan pengembangan dari Tari Lenggo Melayu. Tari Lenggo Mbojo ini kemudian sering ditampilkan dalam acara adat Hanta Ua Pua, yaitu upacara peringatan masuknya agama Islam di Bima, NTB.

Dalam pertunjukannya, Tari Lenggo di iringi oleh musik tradisional dari Bima, yaitu gendang besar(gendang na’e), silu (sejenis serunai), gong dan tawa-tawa. Untuk mengiringi Tari Lenggo ini biasanya diiringi dengan musik berirama lembut atau pelan selaras dengan gerakan para penari.

Dalam perkembangannya, Tari Lenggo ini masih sering dipertunjukan sebagai bagian dari upacara Hanta Ua Pua. Selain itu, Tari Lenggo juga sering ditampilkan di berapa acara seperti penyambutan tamu penting dan festival budaya. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari usaha pelestarian dan memperkenalkan budaya dan tradisi yang ada di Bima, NTB.

3. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Rudat

Tari Rudat adalah tari tradisional yang berasal dari Suku Sasak yang bertempat tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tari Rudat dari Lombok Nusa Tenggar Barat ini ditampilkan untuk menyambut tamu dan acara-acara resmi pemerintahan. 
Dalam hal gerakan, tari rudat ini merupakan tari pencak silat. Hal ini dikarenakan dalam tarian rudat ini ada berbagai macam gerakan pencak silat seperti memasang kuda-kuda, memukul, menendang dan menangkis.
Tari Rudat berasal dari Turki dan menyebar ke Indonesia bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Tari Rudat masuk ke Indonesia abad ke 15 bersamaan dengan penyebaran agama islam di Indonesia. Pada tahun 1987 sering dijumpai tari Rudat yang ditampilkan dipinggir jalan raya mengiringi pengantin pria yang bejalan bersama rombongan menuju rumah mempelai wanita.

Tari Rudat Nusa Tenggara Barat (NTB) dibawakan oleh 13 orang penari lelaki dengan mengenakan pakaian ala prajurit. Para penari mengenakan baju berlengan panjang warna kuning, dan celana selutut berwarna biru serta mengenakan kopiah panjang. Para penari Rudat dipimpin oleh seorang penari yang mengenakan mahkota dan membawa pedang.

Tari Rudat NTB diiringi musik melayu yang dimainkan dari alat - alat musik tradisional berupa rebana, mandolin, biola dan jidur. Pertunjukan Tari Rudat terdiri dari pembukaan ucapan tabik (hormat/permisi) yang berbunyi: Tabik tuan-tuan, tabik nona-nona, mulailah bermain di hadapan tuan-tuan melihat keramaian, kemudian bershalawat (puji-pujian kepada Nabi) dan dilanjutkan dengan penutup (permintaan maaf jika ada salah ucap dan tingkah saat menari)

Tari Rudat NTB biasanya ditampilkan pada acara Maulid Nabi Muhammad, Isra Mi'raj, Khataman Alqur'an, Idul Fitri dan pada perayaan hari-hari besar agama Islam lainnya.

4. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Sere


Tari Sere pada jaman dahulu merupakan tari klasik Istana Bima. Tari Sere dari Bima Nusa Tenggara Barat ini  diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Tari Sere dari NTB dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh – musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri). Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini diberinama mpa’a sere , yang berarti melompat sambil berlari (sere).

Tari Sere diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Tari Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA di Nusa Tenggara Barat.

5. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Gendang Beleq


Tari Gendang Beleq adalah salah satu tarian dari Lombok, dinamakan demikian karena memakai gendang yang sangat besar. Kesenian Gendang Beleq sudah menjadi tradisi di Suku Sasak sejak lama dan merupakan kesenian peninggalan Kerajaan Selaparang Lombok yang menguasai sebagian wilayah pulau Lombok bagian timur pada zaman kerajaan Anak Agung.

Disebut Gendang Beleq, karena menggunakan Gendang berukuran besar yang dalam bahasa sasak disebut Beleq. Kesenian Gendang Beleq, awal masuknya di pulau Lombok, digunakan oleh para tokoh agama untuk menyebarkan islam di daerah ini. Saat itu, kesenian ini dimainkan untuk mengumpulkan warga, yang akan diberikan ceramah agama maupun kegiatan keagamaanlainnya.


Untuk memainkan kesenian ini membutuhkan kekompakan dalam kelompok, sehingga harus dimainkan secara utuh. Musik yang dimainkan, tari yang ditampilkan dalam kesenian Gendang Beleq, menggambarkan jiwa satria masyarakat Suku Sasak Lombok dalam mempertahankan daerahnya.


Pada zaman kerajaan Selaparang, biasanya tari Gendang Beleq dipentaskan untuk melepas prajurit ke medan perang. Tujuannya, agar para prajurit yang akan berlaga di medan pertempuran tetap bersemangat dan bergairah untuk membela daerahnya saat itu. Demikian juga setelah prajurit pulang dari medan pertempuran, disambut kesenian Gendang Beleq di pintu masuk desa, sebagai rasa syukur atas perjuangan mereka. Tradisi Gendang beleq masih dilakukan hingga saat ini untuk menyambut tamu undangan.

6. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Gandrung Lombok

 Tari Gandung merupakan tarian rakyat yang berkembang ditiga daerah, yaitu Banyuwangi (lihat: Tari Gandrung Banyuwangi), Bali dan Lombok. Tari Gandrung dari ketiga daerah tersebut memiliki kemiripan, namun demikian masing-masing juga memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Demikian pula dengan tari gandrung lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tari Gandrung terkenal dilingkungan masyarakat sasak sebagai tarian yang dilakukan oleh seorang wanita dengan iringan puisi (lelakaq), nyanyian (sandaran) dan  seperangkat gamelan (sabarungan ). Gandrung  menunjukan suka cita dan harapan bersama masyarakat sasak dan dipentaskan sebagai sebuah ekpresi simbolis dari masyarakat sasak yang dilakukan dalam perayaan desa setelah masa panen padi.

I Wayan Karyawirya menyatakan dalam tulisannya Tari Gandrung Lombok (1993/1994) bahwa tari gandrung berasal dari Banyuwangi, kemudian menyebar lewat Bali dan akhirnya sampai di Lombok.  Tari Gandrung Lombok dimainkan oleh dua orang penari wanita, biasanya dilakukan pada malam hari bertepatan dengan paska panen padi. Para penari Gandrung Lombok mengenakan pakaian khusus tarian yang terdiri dari beberapa unsur yaitu :
1. Gegelung
2. Gempolan
3. Bapang
4. Stagen dan seret
5. Elaq elaq
6. Gonjer / Gegonjer

 Demikian sobat TradisiKita, 6 tari tradisional Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bisa kita rangkum, semoga menambah wawasan Sobat semua. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya..


sumber :http://www.tradisikita.my.id/2016/04/6-tari-tradisional-nusa-tenggara-barat.html
Share:

5 Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur

Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur - Nusa Tenggara Timur (NTB) adalah merupakan salah satu provinsi Indonesia yang terletak disebelah tenggara Indonesia. Terdiri dari bebrapa pulau antara lain Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Rote dan Pulau Komodo. Ibukota provinsi NTB adalah Kupang yang terletak di bagian barat pulau Timor. Daerahnya yang merupakan kepulauan serta penduduknya yang terdiri dari beragam suku membuat provinsi ini kaya akan kebudayaan khususnya dibidang tari tradisional atau tarian daerah.

Kita akan bisa menemukan banyak ragam tarian daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Sebut saja Tari Bidu, Tari Cerana, Tari Kebalai, Tari Likurai, Tari Hopong, Tari Padoa, Kadingangu, Kataga, Hedung, Dolo, Tari Lili, Attanua, Wenggu, dan Tari Toda Gu. Namun, kali ini, tradisikita akan mengenalkan 5 tarian daerah Nusa Tenggara Timur. Untuk tarian lainnya akan kita bahas pada artikel yang akan datang.

Dan berikut ini adalah 5 tari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) :

1. Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur - Tari Hopong


Tari Hopong adalah merupakan salah satu ritual adat yang ada di masyarakat Helong yang bermukim di Pulau Timor dan Pulau Semao Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Upacara Hopong adalah merupakan ritual yang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan dan Nenek Moyang.

Upacara dan tarian Hopong ini dilakukan pada masa panen di sebuah rumah yang telah ditentukan bersama dengan dihadiri oleh para tetua adat serta lapisan masyarakat Helong. Tarian Hopong menggambarkan kehidupan bersama, nilai religius dan gotong royong masyarakat Helong.

Tarian Hopong diiringi dengan musik tradisional yang dimainkan dari gendang, tambur dan gong.

2. Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur - Tari Kataga

Tari Kataga adalah tarian khas Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bernuansa peperangan. Tari Kataga adalah tarian perang dari Kabupaten Sumba Barat, NTT, yang dilakukan oleh sejumlah penari pria dengan mengenakan kostum / pakaian tradisional khas NTT dilengkapi dengan senjata tradisional berupa pedang dan perisai.
Tarian Kataga biasanya ditampilkan diberbagai acara adat, penyambutan tamu maupun pertunjukan budaya yang diadakan oleh pemerintah NTT maupun masyarakat.
Tari Kataga ini dimainkan oleh 8 orang atau lebih penari pria dengan kostum adat khas Sumba dan dilengkapi senjata seperti pedang dan perisai. Dalam pertunjukannya para penari dibagi menjadi dua kelompok yang menggambarkan dua kubu yang saling berperang. Dengan diiringi oleh iringan musik yang cepat, para penari menari sambil meneriakan suara yang khas sehingga membuat suasana pertunjukan semakin meriah.
Gerakan tarian ini biasanya didominasi dengan gerakan mengayunkan pedang dan gerakan kaki yang meloncat-loncat diikuti dengan gerakan badan seperti mengindari serangan. Selain itu juga diselingi dengan gerakan menepukan perisai pada saat formasi berbaris.
Dalam pertunjukan Tari Kataga biasanya hanya diiringi oleh beberapa alat musik gong yang dimainkan dengan irama cepat. Selain itu suara teriakan para penari, tepukan perisai dan suara gemrincing dari lonceng kecil yang dipasang dibadan penari, juga diatur serta diselaraskan dengan musik pengiring sehingga menghasilkan perpaduan suara yang sangat khas.

3. Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur - Tari Dolo

 Dolo adalah termasuk dalam kategori tari pergaulan yang berkembang dan populer di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tari Dolo dikategorikan sebagai tarian massal yang dapat diikuti oleh massa rakyat dari semua kalangan. Namun dolo sangat menonjol bagi muda – mudi sebagai arena perjumpaan untuk membangun persahabatan, termasuk untuk menemukan jodoh dan menjalin cinta dua sejoli.
Kata dolo yang kita kenal selama ini, bermula dari kata dola, yakni paduan nada do dan nada la dalam sistem solmisasi sebagai standar bunyi atau nada awal untuk menyampaikan syair/pantun. Spontan muncul seorang pelaku melantunkan nada awal ini, dan disambut pelaku – pelaku lainnya dengan nada ini dijadikan pegangan/standar dalam refrein dan berbalas pantun.
Dolo menampilkan syair/pantun, lagu, dan gerak. Syair sangat beragam sesuai keberagaman pengalaman hidup. Lagu dan gerak dalam dolo sangat bersahaja. Lagunya singkat yang dinyanyikan berulang – ulang, interval nadanya tidak jauh berbeda. Formasi yang tunggal dengan membentuk lingkaran. Geraknya tidak banyak bervariasi : gerak kaki maju, mundur, ke kiri, ke kanan dua kali untuk setiapnya melakukan gerak sentak yang cepat dalam irama yang lambat. Kelingking berkait digerakkan ke belakang, diangkat ke atas dan turun ke depan, kembali lagi ke belakang secara berulang.
Dolo sebagai kesenian rakyat penciptanya anonim dan dikatakan sebagai milik masyarakat pendukungnya. Sebagai karya seni, hakekatnya menyenangkan dan menggembirakan (nikmat) dan berguna (ada nilai dan pesan). Orang senang bermain dolo (atau sekedar menonton) karena ada keramaian di tengah kesunyian alam desa, ada kebersamaan dalam kesendirian dan kesepian, ada pentas seni yang menampilkan keindahan. Orang senang bermain dolo (atau sekedar hadir di arena pentas) karena ada pesan yang dikemas lewat syair dan ada nilai di balik seluruh situasi seperti kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan.
Bagi kaum muda tentu lebih menyenangkan dan bermanfaat. Bisa bersama kekasih melewati lorong kampung yang sempit di keremangan terang bulan, bisa bertemu jodoh ketika berbalas pantun yang bukan sekedar basa – basi.

4. Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur - Tari Bidu Hodi Hakdaur

Tari Bidu adalah merupakan tari tradisional yang dikembangkan dari tarian Likurai dari Etnis Belu Nusa Tenggara Timur. Tari Bidu ini dilakonkan oleh sejumlah laki-laki dan perempuan pilihan dengan mengenakan pakaian adat lengkap dengan aksesorisnya. Tarian Bidu biasanya dipersembahkan dalam rangka menyambut tamu kehormatan, hiburan pada perayaan pesta perkawinan dan pada acara ritual adat lainnya.

merupakan salah satu tarian pergaulan (social dance) yang mengembangkan unsur tradisional dalam kemasan yang kreatif dan inovatif. Tarian diawali dengan para laki-laki yang gagah menarikan gerakan kaki dengan lincah, kokoh dan khas, sambil memainkan atau menyuarakan bunyi giring-giring mengikuti irama gendang yang ditabu oleh pengiring. Setelah itu datanglah sejumlah penari perempuan dengan berlenggak-lenggok menawan sambil memainkan dengan lincah jari-jemari tangan memukul gendang atau alat pukul Bibiliku (tambur), yang dililit disamping kiri, sambil terus meliuk-liukkan tubuhnya dengan semangat yang riang gembira. Juga terdapat kareografi berpasangan dan secara berkelompok membentuk lingkaran. Tarian ini terus menampilkan gerakan-gerakan yang penuh semangat yang ditampilkan secara enerjik seperti kelihaian memainkan parang dalam tarian.

Tarian ini diiringi oleh ritmik musik hasil perpaduan alat musik tradisional NTT antara lain berupa pukulan gendang, gong, tambur dan tiupan recorder serta syair bahasa adat yang sarat akan makna spirit perjuangan serta terakan pekik yang nyaring bersahut-sahutan menandakan kemenangan. Nyanyian lagu daerah diselingi dalam tarian ini, yaitu lagu daerah rakyat Belu, Loro Malirin dengan lirik: Oras loro malirin, teu tanis lakateu tanis, tanis na'ak nian ina, ro sina sa'e ro sina. Taka sela ba kuda, lun turu bete lun turu, bete keta lun turu, mai kikar ba mai kikar. Tarian yang dinamis ini, memperlihatkan laki-laki dan perempuan dengan balutan busana tenun ikat Suku Belu dan perangkat aksesoris lainnya, seperti adanya tais (tas tradisional) dan kelewang (parang tradisonal) yang dikenakan para penari membuat tarian menampilkan kekayaan budaya etnik NTT yang eksotik.


5. Tarian Daerah Nusa Tenggara Timur - Tari Cerana

Tari Cerana merupakan tarian daerah Kupang Nusa Tenggara Timur yang ditampilkan untuk penyambutan tamu.Tari Cerana ditampilkan oleh penari pria dan 6 orang penari wanita dengan menggunakan busana atau pakaian adat daerah NTT serta iringan musik. Gerakan para penari lebih cenderung lembut sebagai simbol kehormatan.
Awal pertunjukan penari wanita menari dengan iringan musik dan pria bergabung dengan gerakan antara pria dan wanita berbeda. Gerakan wanita lembut dengan ditangan sirih dan pinang untuk diberikan kepada penonton, sedangkan penari pria dengan gerakan tangan direntangkan.
 
Alat musik yang digunakan adalah Sasando dengan tempo lambat dan cenderung lembut, sehingga akan terjalin hubungan harmoni antara gerakan dengan iringan sasando.
Kostum tari ini dengan pakaian adat. Pada rambut dengan menggunakan konde dan sarung dari dada sampai kaki. Konde tersebut cerminan khas kupang serta ikat kepala yang berbentuk sabit. Aksesoris tari ini seperti kalung, gelang, dan sabuk berbentuk khas.
Penari pria dengan pakaian adat berupa baju lengan panjang kain selampang serta sarung serta menggunakan ikat kepala serta dilengkapi dengan kalung yang khas.

Demikian Sobat tradisi, 5 tarian daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bisa kita ketahui bersama pada artikel kali ini. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya masih tentang tradisi dan budaya masyarakat Indonesia.

sumber:  http://www.tradisikita.my.id/2016/04/5-tarian-daerah-nusa-tenggara-timur.html
Share:

 Kebudayaan dari Provinsi Sulawesi Tenggara 

kita akan melihat rumah adat, pakaian adat, tari-tarian, senjata tradisional, suku, bahasa dan lagu daerah dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Berikut uraiannya :

1. Rumah Adat
Salah satu contoh rumah adat Sulawesi Tenggara disebut Istana Sultan Buton. Istana Sultan Buton disebut juga Malige. Bangunan tersebut tidak memakai paku dan merupakan rumah panggung. Ia terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama tempat kediaman raja dan permaisuri, lantai kedua untuk tempat tinggal dan lantai ketiga tempat wanita salat. Pada kiri kanan lanta dua ada ruangan tempat semacam menenun kain yang disebut Bate.
Istana Sultan Buton
Sultan Buton adalah pilihan rakyat banyak. Sultan harus bersih dari cacat jasmani ataupun cacat rohani. Untuk menggantikan kedudukan Sultan, tidak selamanya dari keturunan Sultan yang berkuasa. Dapat pula dupilih dari adik atau kakak Sultan, bahkan dari orang lain yang sederajat.
2. Pakaian Adat
Prianya memakai pakaian adat berupa tutup kepala (destar), baju model jas tutup sarung sebatas dengkul dan celana panjang.
Sedangkan wanitanya memakai baju kebaya. Diatas kepalanya terdapat hiasan kembang dan hiasan lainnya berupa anting anting, kalung, dan gelang. Pakaian adat ini berasal dari Kendari.
Pakaian Adat Sulawesi Tenggara
3. Tari tarian Daerah Sulawesi Tenggara
a. Tari Balumpa, merupakan tari selamat datang dalam menyambut tamu agung. Tari rakyat ini berasal dari Buton.
b. Tari Dinggu, melambangkan sifat kegotongroyongan dalam kerja bersama sewaktu menumbuk padi. Sentuhan alu pada lumbung merupakan irama tersendiri yang menyentuh hati.
c. Tari Molulo, adalah tarian yang indah danriang dari pergaulan muda mudi Sulawesi Tenggara.
d. Tari Motasu (berladang), Tari Motasu diangkat dari tradisi masyarakat Tolaki di Kabupaten Kolaka dan Kendari. Keseluruhannya menggambarkan ungkapan permohonan kepada tuhan agar dalam berladang dapat perlindungan dan kelak dikaruniai hasil yang melimpah.
Tari Balumpa
Tari Dinggu
4. Senjata Tradisional
Keris adalah senjata tradisional rakyat Sulawesi Tenggara/ bentuknya berlekuk lekuk seperti keris pada umumnya. Istana dan banteng kerajaan Sultan Buton sangat terkenal dalam sejarah perlawanan bersenjata menentang Belanda. Keris dan pedang dipakai untuk perang jarak dekat, sedangkan tombak, lembing dan sumpitan untuk perang jarak jauh.
Keris Sulawesi Tenggara
5. Suku : Suku da marga yang terdapat didaerah Sulawesi Tenggara adalah : Walio, Laki, Muna, Buton, Mororene, Wowonii, Kulisusu, dan lain lain.
6. Bahasa Daerah : Buton, Muna, Laki dan lain lain.
7. Lagu Daerah : Peia Tawa tawa
 
sumber: http://www.kebudayaanindonesia.com/2014/04/kebudayaan-sulawesi-tenggara.html
Share:

10 Tari Tradisional Sulawesi Tengah 

 
Provinsi Sulawesi Tengah memiliki areal yang terluas dan jumlah penduduk terbanyak dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Sulawesi. Adapun suku bangsa yang bertemppat tinggal di Sulawesi Tengah antara lain Suku Kaili, Bugis, Babasal, Gorontalo, Pamona dan Mori. Pulau Sulawesi khususnya Provinsi Sulawesi Selatan memiliki keanekaragaman tradisi dan budaya yang bisa kita kenal di blog ini. Diantaranya adalah tari tradisional Sulawesi Selatan.
Tari-tarian tradisional Sulawesi Selatan tersebut merupakan penggambaran keseharian masyarakat Sulawesi Selatan yang dituangkan dalam sebuah karya seni dan budaya berupa tari tradisional.

1. Tari Tradisional Sulawesi Tengah - Tari Pontanu

Tari Pontanu Sulawesi Tengah
Tari Pontanu adalah tari tradisional Sulawesi Tengah yang menggambarkan kegiatan para penenun di daerah Donggala, Sulawesi Tengah. Tarian ini biasanya ditarikan oleh para penari wanita dan gerakan dalam tarian ini menggambarkan aktivitas para wanita yang sedang menenun Sarung Donggala, yaitu jenis sarung yang khas dari daerah Donggala. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, festival budaya, bahkan promosi wisata

Tari Pontanu dari Sulawesi Selatan ini biasanya dimainkan oleh 4 orang penari wanita atau lebih. Dalam pertunjukan Tari Pontanu biasanya diawali dengan gerakan tari yang dikreasikan. Kemudian di tengah-tengah pertunjukan penari menari dengan gerakan seperti menenun. Pada babak akhir biasanya diakhiri dengan membentangkan sarung khas Donggala yang dibawa masing-masing penari dan dipertunjukan kepada penonton. Sarung tersebut biasanya juga dimainkan seperti dikibarkan layaknya bendera.

Dalam pertunjukan Tari Pontanu biasanya diiringi oleh alunan musik yang dimainkan dengan menggunakan alat musik tradisional Sulawesi Tengah seperti Ngongi dan Ganda. Ngongi sendiri merupakan jenis alat musik seperti Gong, sedangkan Ganda merupakan jenis alat musik seperti Gendang. Untuk irama yang dimainkan biasanya disesuaikan dengan gerakan para penari sehingga terlihat selaras.

Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Pontanu biasanya merupakan busana adat. Pada busana atasan biasanya menggunakan baju longgar tanpa lengan yang disebut dengan Baju Nggembe. Sedangkan untuk bawahannya menggunakan sarung khas Donggala yang disebut dengan Buya Sabe. Untuk aksesoris penari biasanya menggunakan Dali Taroe (anting), Polosu Unte (tusuk konde), dan Ponto (gelang). Selain itu, penari juga mengenakan sarung tambahan yang dilipat-lipat dan diselipkan pada bagian pinggang. Sarung ini nantinya digunakan untuk menari di bagian akhir tarian.

2. Tari Tradisional Sulawesi Tengah - Tari Pamonte

Tari Pamonte adalah tari tradisional yang mengangkat kegiatan suku Kaili di Sulawesi Tengah saat musim panen padi. mereka memetik dan menuai padi secara bergotong-royong. Pesta panen disebut dengan adat vunja yaitu tradisi masyarakat dalam mensyukuri keberhasilan panen. Dalam tarian ini terlihat jelas proses pengolahan padi menjadi beras. Mulai dari memetik, menumbuk, menapis. Gerak tari pamonte mengikuti syair lagu yang dinyanyikan.


Dalam pertunjukannya, Tari Pamonte ditarikan oleh para penari wanita. Jumlah penari Tari Pamonte ini biasanya terdiri dari 10 orang penari dan seorang Penghulu yang disebut dengan Tadulako. Seorang Tadulako dalam tarian ini berperan sebagai pemimpin tari dan memberikan aba-aba kepada para panari lainnya. Dengan mengenakan busana yang khas layaknya para petani, penari menari dengan gerakannya yang khas mengikuti alunan musik pengiring.

Gerakan dalam tarian ini dalam tarian ini menggambarkan aktivitas para petani saat masa panen padi, seperti menuai padi, menumbuk padi, menapis dan lain-lain. Gambaran aktivitas petani tersebut dikemas dalam suatu gerak tari yang khas dengan menggunakan caping atau toru sebagai alat yang digunakan untuk menari.

Dalam pertunjukan Tari Pamonte biasanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti Ngongi, Ganda dan alat musik tradisional Sulawesi Tengah lainnya. Selain itu tarian ini juga diiringi dengan nyanyian syair adat yang dinyanyikan oleh pengiring vokal. Gerakan para penari, biasanya juga mengikuti syair yang dibawakan agar terlihat lebih padu. Namun seiring perkembangan teknologi, dan dengan alasan kepraktisan, tari pamonte ada juga yang diiringi dengan musik dari kaset.

Dalam pertunjukan Tari Pamonte, penari menggunakan kostum layaknya para petani dan dipadukan dengan gaya tradisional Sulawesi Tengah. Para penari pamonte biasanya memakai baju kebaya pada bagian atas. Pada bagian bawah biasanya menggunakan kain sarung donggala. Baju kebaya dan sarung tersebut biasanya memiliki motif dan warna khas Sulawesi Tengah. Sedangkan pada bagian kepala biasanya menggunakan kerudung dan memakai caping (toru).

Tari Pamonte Sulawesi Tengah

3. Tari Tradisional Sulawesi Tengah - Tari Dero

Tari Dero atau Madero adalah tarian yang berasal dari Suku Pamona yang berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.Tarian ini tergolong tarian pergaulan yang ditarikan secara masal oleh semua kalangan masyarakat, baik pria maupun wanita, baik tua maupun muda bisa melakukan tarian ini. Tari Dero ini merupakan salah satu tradisi lama masyarakat Suku Pamona yang masih dipertahankan hingga sekarang dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti upacara adat, pesta adat, penyambutan, dan berbagai acara yang bersifat hiburan dan budaya lainnya.Bahkan dalam pertunjukan Tari Dero, biasanya para penonton pun diajak berpartisipasi untuk ikut menari bersama. Mereka berkumpul menjadi satu dan menari dengan diiringi musik pengiring serta nyanyian syair atau pantun. Karena dilakukan dalam jumlah yang banyak, biasanya Tari Dero ini dilakukan di tempat yang luas.

Dalam pertunjukan Tari Dero, pada awalnya para penari dibagi menjadi dua kelompok. Kemudian mereka menuju arena sambil menari dari arah yang berbeda dan bertemu menjadi satu barisan yang panjang. Setelah menjadi satu barisan kemudian mereka menghadap ke satu arah dan menari bersama. Setelah itu kemudian sambil menari mereka membuat formasi melingkar dan menari dengan saling berpegangan tangan.

Gerakan Tari Dero ini cukup sederhana, gerakan tarian ini didominasi dengan gerakan mengayunkan tangan ke depan dan gerakan kaki ke kiri dan ke kanan mengikuti irama. Untuk gerakan kaki ke kanan biasanya dilakukan dengan satu kali, sedangkan gerakan kaki ke kiri biasanya dilakukan dua kali. Sehingga formasi penari akan bergerak searah dengan jarum jam.

 Dalam pertunjukan Tari Dero biasanya diringi oleh musik tradisional seperti Nggongi dan Ganda. Selain itu, dalam pengiring Tari Dero juga tedapat pengiring vokal yang bertugas menyanyikan syair atau pantun. Untuk irama musik yang dimainkan biasanya disesuaikan dengan nyanyian syair atau pantun yang dibawakan oleh pengiring vokal tersebut.

Untuk kostum yang digunakan para penari biasanya disesuaikan dengan acara. Untuk acara yang bersifat perayaan atau hiburan biasanya penari lebih menggunakan pakaian bebas. Sedangkan untuk acara adat atau pertunjukan tari biasanya penari menggunakan pakaian adat.


Tarian (modero) merupakan tarian yang penuh dengan kedamaian. Dengan tarian itu menandakan tak ada diskriminasi suku, etnis, maupun agama

 4. Tari Tradisional Sulawesi Tengah - Tari Morego


Morego adalah sejenis tarian untuk menyambut kepulangan para pahlawan dari medan perang dengan membawa kemenangan. Sebelum melakukan tarian ini ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para penari diantaranya meminta restu kepada pemangku adat, setelah itu mencari wanita pasangan menari yang belum menikah.

 5. Tari Tradisional Sulawesi Tengah - Tari Balia


Tari Balia merupakan sejenis tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animism, yaitu pemujaan terhadap benda keramat, khusunya yang berhubungan dengan pengobatan tradisional terhadap seseorang yang terkena pengaruh roh jahat. Pengertian Balia ialah tantang dia (Bali = tantang, ia/iya = dia), yang artinya melawan setan yang telah membawa penyakit dalam tubuh manusia. Balia dipandang sebagai prajurit kesehatan yang mampu untuk memberantas atau menyembuhkan penyakit baik itu penyakit berat maupun ringan melalui upacara tertentu. Masuk atau tidaknya makhluk-makhluk tersebut ditentukan oleh irama pukulan gimba (gendang), lalove (seruling) yang mengiringi jalannya upacara ini.
Tari Balia


6. Tari tradisional Sulawesi Tengah - Tari Dopalak


Dopalak ditarikan oleh 7 orang penari wanita, seorang diantaranya berperan sebagai palima yaitu kepala penari. Keenam penari lainnya disebut dayang-dayang. Tari Dopalak mengambarkan bagaiman ketujuh orang tersbut dating membawa dulang, setelah itu palima maju terlebih dahulu untuk menyelidiki tempat yang mengandung emas, kemudian diikuti oleh yang lain. Kemudian mereka semua mulai mengambil pasir yang bercampur emas, selanjutnya pekerjaan mendulang dimulai, menggunakan selendang sebagai penyaring, emas yang diperoleh dimasukkan ke dalam dulang selanjutnya mereka pulang. Iringan music tari Dopalak adalah seperangkat kakula, pertunjukkan ini dilakukan kurang lebih 7 menit.

7. Tari tradisional Sulawesi Tengah - Tari Jepeng

Tari Jepeng merupakan jenis tarian yang bernafaskan Islam. Pada mulanya tari Jepeng hanya ditarikan oleh kaum dewasa secara berpasangan, pada acara pesta perkawinan, khitanan, syukuran dan sebagainya, namun seiring perkembangan jaman, tari ini mulai dikreasikan, sehingga dapat dilakukan oleh kaum wanita dan pria secara berpasangan. Tarian ini diiringi kesenian marawasi, bersama-sama dengan alat kesenian lainnya seperti gambus, dan biola (viol).


Tari Jepeng

8. Tari tradisional Sulawesi Tengah - Tari Pepoinaya


Tari Pepoinaya merupakan tari pengucapan syukur atas segala berkah dan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan ini. Tari ini adalah pengembangan dari upacara adat Wurake dari Kabupaten Poso.

9. Tari tradisional Sulawesi Tengah - Tari Anitu

Anitu berarti halus, tari ini dikenal di daerah Kulawi dan Palu Kabupaten Donggala. Tari Anitu ditarikan oleh 6 orang wanita. Formasi pokok dalam tarian tersebut adalah membentuk dua deretan ke belakang, yaitu tiga di kiri dan tiga di kanan serta membentuk satu dertan berjajar dngan setiap penari meletakkan tangan dibahu penari yang ada di sebelahnya. Gerak-gerak tangan yang digunakan adalah membuka dan menutup telapak tangan, gerak-gerak tangan seperti menumbuk, dan mengayunkan kedua tangan sambil memgang ujng selendang.

10. Tari tradisional Sulawesi Tengah - Tari Posisani


Tari Posisani. Posisani berarti perkenalan, tari ini merupakan tari pergaulan yang menggambarkan kegembiraan mda-mudi saat pesta. Mereka bergembira bersama sambil menari dan menyanyi. Para gadis menari dengan memainkan kerincing. Di saat inilah mereka berkenalan antara satu dengan yang lainnya, dan pada akhirnya mereka menemukan pasangan hidup. Pakaian Tari Posisani sama dengan pakaian yang digunakan pada Tari Jepeng, yaitu blus lengan panjang (bahasa Kaili : Baju Pasua) berwarna merah jambu. Pada pergelangan tangan blus ini, diaplikasi dengan kain warna biru yang bersulamkan benang emas sebagai pengganti gelang tangan. Pakaian Tari Posisani ini mengunakan selempang (bahasan Kaili : Nosampa) berwarna ungu dan putih yang dihiasi dengan picing/mote warna kuning, bermotifkan taiganja.
Pada bagian bawah, memakai celana panjang sebatas mata kaki (Puruka ndate) berwarna merah jambu. Pada pergelangan kaki celana ini diaplikasi dengan kain berwarna biru yang dihiasi dengan picing/mote warna kuning bermotifkan taiganja, sebagai pengganti gelang kaki. Selain celana panjang, juga memakai rok warna biru yang dihiasi picing/mote warna kuning bermotifkan taiganja dan benang emas. Rok ini dilengkapi dengan ban pinggang warna hitam, bersulamkan benang emas.


sumber : http://www.tradisikita.my.id/2016/09/10-tari-tradisional-sulawesi-tengah.html
Share:

Adat Seni dan Budaya Sulawesi Selatan

Awanzo Blogs
Kalau waktu yang lalu Awanzo Blogs telah memuat artikel tentang Adat Seni Budaya Papua, nah...,sekarang giliran kita terbang ke Sulawesi Selatan",dalam satu misi yang masih sama yaitu melestarikan seni budaya Indonesia.
Sekarang Adat, seni, dan budaya apa saja yang ada di Sulawesi Selatan ? Yuk, mari kita tengok bersama adat seni, dan budaya Sulawesi Selatan.
=> Pertama: Suku/etnis
Suku/etnis yang berada dan mendiami daerah Sulawesi Selatan ini sebenarnya tergolong banyak, namun jika dilihat dari segi mayoritas penduduk hanya terdapat 3 kelompok etnis besar yang berada di daerah Sulawesi Selatan. Diantaranya Makasar, Bugis, dan Toraja.
Begitu pula dalam pemakaian bahasa sehari-hari, memang ke-3 kelompok entis inilah yang terlihat lebih dominan di antara banyaknya bahasa yang digunakan etnis minoritas yang ada di Sulawesi Selatan.
=> Kedua: Kebudayaan
Mungkin untuk kebudayaan Adat Tana Toraja yang masih menjadi unggulan dari daerah Sulawesi Selatan. dimana ciri khas adat Tana Toraja yang sangat menarik dan juga unit ditambah lagi banyaknya publikasi dari beberapa stasiun televisi lokal dan swasta, dan juga program pariwisata daerah, sehingga membuat adat Tana Toraja lebih dikenal oleh masyarakat dari dalam dan luar negeri. Jadi tidak salah jika adat Tana Toraja menjadi budaya unggulan yang ada di Sulawesi Selatan.
=> Ketiga: Lagu daerah
Lagu daerah propinsi Sulawesi Selatan yang sangat populer dan sering dinyanyikan di antaranya adalah lagu yang berasal dari Makasar yaitu lagu Ma Rencong-rencong, lagu Pakarena serta lagu Anging Mamiri. Sedangkan lagu yang berasal dari etnis Bugis adalah lagu Indo Logo, serta lagu Bulu Alaina Tempe. Sedangkan lagu yang berasal dari Tana Toraja adalah lagu Tondo.
Keempat: Rumah tradisional atau rumah adat
Rumah tradisional atau rumah adat di propinsi Sulawesi Selatan yang berasal dari Bugis, Makassar dan Tana toraja dari segi arsitektur tradisional ke tiga daerah tersebut hampir sama bentuknya. Rumah-rumah adat tersebut dibangun di atas tiang-tiang sehingga rumah adat yang ada di sana mempunyai kolong di bawah rumahnya.
Tinggi kolong rumah adat tersebut disesuaikan untuk tiap tingkatannya dengan status sosial pemilik rumah, misalnya apakah seorang raja, bangsawan, orang berpangkat atau hanya rakyat biasa. Hampir semua masyarakat Sulsel percaya kalau selama ini penghuni pertama zaman prasejarah di Sulawesi Selatan adalah orang "Toale". Hal ini di dasarkan pada temuan Fritz dan Paul Sarasin tentang orang Toale (orang-orang yang tinggal di hutan/penghuni hutan).
Selain keempat ciri khas ikon daerah Sulawesi Selatan masih ada lagi ikon - ikon lain yang sangat menarik bagi pengamat budaya dunia untuk daerah Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah upacara adat yang terkenal yang terdapat di Sulawesi Selatan tepatnya di Tanah Toraja (Tator). Upacara adat tradisional tersebut bernama upacara Rambu Solo (merupakan upacara duka cita/kematian).
Upacara Rambu Solo merupakan upacara besar sebagai ungkapan rasa duka cita yang sangat mendalam, juga menjadi adat, seni budaya Sulawesi Selatan.
Nah..., demikian tersebut adalah gambaran kecil tentang kekayaan seni budaya Indonesia yang ada di Sulawesi Selatan, selain alat musik tradisional dari daerah Sulawesi Selatan sendiri yang pernah Awanzo Blogs muat waktu lalu.
Untuk lebih jelasnya anda yang berdomisili di daerah lain selain Sulawesi Selatan bisa langsung berkunjung ke Sulawesi Selatan, dan rasakan keramah - tamahan penduduk pribumi Sulawesi Selatan tersebut. Toh walaupun anda pengunjung manca daerah, tapi rasa memiliki akan kekayaan seni budaya Sulawesi Selatan juga tidak ada larangankan. Karena apapun dan bagaimana pun seni budaya Sulawesi Selatan merupakan kekayaan seni budaya Indonesia juga, yang wajib untuk kita jaga dan lestarikan keberadaannya. Kalau wisatawan mancanegara saja bisa suka dan bangga, kenapa kita masyarakat pribumi tidak.
Jangan sampai kita baru bangun rasa peduli terhadap seni kebudayaan bumi pertiwi ini disaat bangsa lain telah mulai mengusik seni budaya Indonesia itu sendiri.

sumber : http://agvnk-0n3.blogspot.co.id/2012/07/adat-seni-dan-budaya-sulawesi-selatan.html
Share:

11 Tari Tradisional Kalimantan Selatan 

 
 Secara garis besar tari tradisional yang berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dibedakan menjadi Tari Adat Etnis Banjar dan Tarian tradisional etnis Dayak.
Tari- tarian tradisional Kalimantan Selatan yang masuk kedalam etnis Banjar, telah berkembang sejak masa kesultanan Banjar serta dipengaruhi oleh budaya Jawa dan Melayu.
Adapun contoh tari-tarian dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan antara lain Tari Baksa Kambang, Radap Rahayu, Kuda Gepang, Baksa Dadap, Baksa Hupak, Baksa Katar, Baksa Kupu-kupu, Baksa Lilin, Baksa Panah, Baksa Tameng, Baksa Tumbak, Balatik, Baleha, Batarasulan, Bogam, Dara Manginang, Garah Rahwana, Hantak Sisit, Hanoman, Japin Batuah, Japin Dua Saudara, Japin Hadrah, Japin Kuala, Japin Pasanggrahan, Japin Rantauan, Japin Sisit, Kuda Gepang, Ladon, Maayam Tikar, Ning Tak Ning Gung, Paris Tangkawang, Radap Rahayu, Rudat, Sinoman Hadrah, Tantayungan, Tanggui, Tameng Cakrawati, Tirik Kuala, Tirik Lalan, Topeng Kelana, Topeng Wayang, dan Tari Topeng.
Sedangkan tari Kalimanta Selatan yang berasal dari etnis dayak antara lain tari Tandik Balian, Tari Babangsai dan Tari Kanjar. Dan berikut ini tradisikita akan mencoba mengumpulkan tari-tarian tradisional Kalimantan Selatan bersama penjelasannya.

1. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Baksa Kambang

Tari Baksa Kambang adalah tarian klasik Banjar yang ditampilkan untuk menyambut tamu Agung yang datang ke Kalimantan Selatan. Tari Baksa Kambang merupakan tarian tunggal yang ditarikan oleh wanita, akan tetapi bisa juga ditarikan oleh beberapa penari wanita.
Tarian Baksa Kambang ini memakai properti sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan. Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai. Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan.
Tarian Baksa Kambang diiringi seperangkat tetabuhan alat musik tradisional Kalimantan Selatan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang. Pada tahun 1990-an, Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku. Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembang dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.
Tari Baksa Kambang | gambar : http://pulaubanuabanjar.com

2. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Baksa Tameng


Merupakan jenis tari klasik Banjar dengan menggunakan taming/tameng (perisai).Dalam tarian ini sebuah perisai kecil yang dinamakan taming, dan sebilah keris terhunus dipegang. Tarian ini dimulai dengan perlahan-lahan dan dengan penuh hormat dan kemudian sedikit demi sedikit menjadi lebih cepat dan lebih liar, seolah-olah menggambarkan suatu pertarungan. Tari Baksa Tameng ditarikan oleh penari laki-laki, diiringi musik tradisional atau gamelan dan lagu Parang Lima, Parang Capat. Penari Baksa Tameng menggunakan pakaian tradisional yang menggambarkan seorang ksatria/prajurit.

3. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Baksa Dadap


Tari Baksa Dadap merupakan tari klasik Banjar Kalimantan Selatan, tarian ini masih dipertunjukkan di keraton Banjar menurut laporan orang-orang Belanda yang mengunjungi keraton Banjar terakhir. Dalam mempersembahkan tarian ini para penari memegang busur dan anak panah yang dipanggil dadap. Mereka melompat dengan senjata ini, sambil mengankat sebelah kaki, bergerak dengan amat cepat, seolah-olah mereka terpaksa mempertahankan diri dari serangan yang datang dari semua sudut.

4. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Radap Rahayu

Tari Radap Rahayu adalah tarian klasik yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan. Tari Radap Rahayu ini bersifat sakral dan merupakan tarian untuk menyambut tamu sebagai tanda penghormatan. Kata radap berasal dari beradap-adap yang memiliki arti bersama-sama, berkelompok dan atau lebih dari satu. Rahayu memiliki arti galuh wan bungas (perempuan yang cantik). Selain itu, Rahayu memiliki arti kebahagian, kesenangan, kemakmuran.
Pada awalnya, tari Radap Rahayu adalah tarian yang memiliki fungsi sebagai penolak bala dan bersifat ritual bagi masyarakat Banjarmasin. Tari Radap Rahayu dilakukan pada upacara seperti kehamilan, perkawinan, dan kematian. Tari Radap Rahayu sebagai tari penolak bala dan tari meminta keselamatan berasal dari peristiwa di mana kapal Perabu Yaksa berisi patih Lambung Mangkurat yang pulang berkunjung dari kerajaan majapahit. Ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai barito, kapal ini kandas di tengah perjalanan. Perahu oleng dan nyaris terbalik. Situasi itu membuat patih Lambung Mangkurat memuja Bantam yaitu meminta pertolongan pada yang maha kuasa agar kapal diselamatkan. Tak lama, turun tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-adap. Akhirnya kapal selamat dan para bidadari kembali ke kayangan. Hal itu ditandai dengan gerakan awal dan akhir tarian Radap Rahayu yaitu gerak terbang layang. Kini tari Radap Rahayu lebih dilakukan saat acara-acara penyambutan tamu-tamu sebagai tanda penghormatan.

5. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Kuda Gepang

Tari kuda gipang/gepang adalah sebuah seni tari dan budaya yang cukup dikenal luas dikalangan masyarakat melayu Banjar.Tarian ini dipengaruhi oleh kebudayaan etnis Jawa. Tari kuda gipang ditampilkan pada upacara perkawinan masyarakat Banjar. Tari ini biasanya dilengkapi juga dengan diusungnya/bausung kedua pengatin saat menuju pelaminan. Seni tari kuda gipang masih sering dimainkan oleh masyarakat Banjar terutama di Kabupaten Tapin ( Rantau ), Hulu Sungai Selatan (Kandangan), Hulu Sungai Tengah ( Barabai ), Hulu Sungai Utara ( Amuntai ),Dan juga Kabupaten banjar ( Martapura ).
Menurut cerita dahulu Tarian ini berasal dari Lambung Mangkurat yang datang ke Majapahit untuk bertemu dengan Gajah Mada ketika mau pulang di beri hadiah kuda, ketika dinaiki kudanya lumpuh, dengan kesaktiannya kudanya di kecilin dan di bawa pakai tangan untuk dinaikkan ke kapal.


6. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Bagandut

Tari Bagandut adalah merupakan tarian rakyat dari Kalimantan Selatan. Tari Bagandut inin merupakan jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau dan merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub dan tari ronggeng . Gandut artinya tledek (Jawa).
Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkimpoian, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.
Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.
Tari Bagadut | gambar : beritabanjar.com

7. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Mayam Tikar

Tari Mayam Tikar merupakan jenis tari khas dari Kabupaten Tapin yang menggambarkan remaja putri dari daerah Margasari, Kabupaten Tapin yang sedang menganyam tikar dan anyaman. Tari berdurasi sekitar 6 menit ini biasanya dibawakan oleh 10 orang penari putri. Tari ini diciptakan oleh Muhammad Yusuf, Ketua Sanggar Tari Buana Buluh Merindu, dari kota Rantau, ibukota Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan 




8. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Tantayungan

Tari Tantayungan merupakan tarian tradisi masayrakat Banjar Kalimantan Selatan. Tarian ini mempresentasikan kisah dalam tokoh pewayangan. Sehingga tarian ini terkesan hidup lantaran diselingi dengan dialog kelompok penari. Tarian ini sendiri diiringi dengan musik karawitan melalui instrument alat musik tradisional Kalimantan Selatan antara lain babun, gong, sarunai, dan kurung-kurung. Paduan karawitan ini sangat harmoni dengan kelompok tari yang diperankan.
Seni dan tari tantayungan, awalnya kerap ditampilkan di sebuah desa, yakni Desa Ayuang, Barabai. Lalu dikembangkan di Kampung Mu’ui, Desa Pangambau Hulu, Kecamatan Haruyan oleh salah satu damang bernama Amat. Seni khas ini kemudian dikalim oleh pelaku seni HST, Sarbaini, di Desa Barikin sebagai seni khas Hulu Sungai Tengah.
Sayang sampai saat ini keberadaan tari Tantayungan telah hilang tergerus zaman

9. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Tandik Balian

Tari Tandik Balian, merupakan tarian tradisional yang berasal dari suku Dayak Warukin, yaitu suku Maanyan yang terdapat di desa Warukin dan desa Haus, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Suku Dayak Warukin (Tabalong-Kalsel) merupakan salah satu subsuku Dayak Maanyan yang memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi sebuah atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian.
Tandik Balian | Gambar : https://banuahujungtanah.wordpress.com

10. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Babangsai

Tarian Babangsai merupakan tarian yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tari Babangsai ini merupakan salah satu tarian ritual dari suku Dayak Bukit. Tarian Babangsai dari Kalimantan Selatan ini hampir sama dengan tari Kanjar, dimana jika tari kanjar dilakukan oleh para lelaki, dan tari Babangsai dilakukan oleh para wanita. Bentuk dari tarian ini berupa gerakan berputar-putar mengelilingi suatu poros berupa altar tempat meletakkan sesaji. Tarian ini mirip dengan tarian upacara ritual pada suku Dayak rumpun Ot Danum.

Tari Babangsai Bakanjar merupakan tarian tradisional suku dayak yang mengiringi prosesi ritual aruh yang dilaksanakan di balai adat di pegunungan Meratus. Foto ANTARA/Herry Murdy Hermawan/B

11. Tari Tradisional Kalimantan Selatan - Tari Kanjar

Tari Kanjar merupakan tarian ritual pada upacara religi suku (Hindu Kaharingan) dari suku Dayak Bukit. Tari Kanjar (ba-kanjar) pada suku Bukit dilakukan oleh penari lelaki, sedangkan tarian serupa jika ditarikan penari wanita disebut tari babangsai. Wujud tarian ini berupa gerakan berputar-putar mengelilingi suatu poros berupa altar tempat meletakan sesaji (korban). Jadi mirip dengan tarian upacara ritual pada suku Dayak rumpun Ot Danum lainnya, misalnya pada suku Dayak Benuaq di Kalimantan Timur

Demikian Sobat tradisi, 11 tari tradisional Kalimantan Selatan yang bisa kami informasikan kepada Sobat tradisi semua. Beberapa tarian dari Kalimantan Selatan ini akan kami update setelah kami mendapatkan informasi yang terbaru. Sampai jumpa pada artikel tradisikita selanjutnya.


sumber :http://www.tradisikita.my.id/2016/11/11-tari-tradisional-kalimantan-selatan.html
Share:

Seni tradisional Banjar

Seni tradisional Banjar adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suku Banjar. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidakmauan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut.
Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa, dan danau, di samping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba religius. Di samping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.
Ikatan kekerabatan mulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan masih jelas tampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan.
Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi, dan asimilasi. Sehingga tampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ketuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Buddha.
Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar tampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transportasi, tari, nyanyian, dan sebagainya.
Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar
Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai cabang seni.

Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman Hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya:
  • Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung.
  • Tari Baksa Panah
  • Tari Baksa Dadap
  • Tari Baksa Lilin
  • Tari Baksa Tameng
  • Tari Radap Rahayu
  • Tari Kuda Kepang
  • Tari Japin/Jepen
  • Tari Tirik Kuala
  • Tari Gandut
  • Tari Tirik
  • Tari Babujugan
  • Tari Jepen Lenggang Banua
  • Tari Japin Hadrah
  • Tari Kambang Kipas
  • Tari Balatik
  • Tari Parigal Amban
  • Tari Tameng Cakrawati
  • Tari Alahai Sayang

Gamelan Banjar

  • Gamelan Banjar Tipe Keraton
  • Gamelan Banjar Tipe Rakyatan

Lagu Daerah

Lagu daerah Banjar yang terkenal misalnya :

Seni Rupa Dwimatra

Seni Anyaman

Seni anyaman dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan kopiah.

Seni Lukisan Kaca

Seni lukisan kaca berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna.

Seni Tatah/Ukir

Motif ukiran juga diterapkan pada sasanggan yang terbuat dari kuningan.
Motif jambangan bunga dan tali bapilin dalam seni tatah ukir Banjar
Seni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan masjid, bagian-bagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan, meriam kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.

Pencak Silat Kuntau Banjar

Pencak Silat Kuntau Banjar adalah ilmu beladiri yang berkembang di Tanah Banjar dan daerah perantauan suku

Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat)

Rumah adat Banjar ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan tempat kediaman pangeran/raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat. Jenis-jenis rumah Banjar:
  1. Rumah Bubungan Tinggi, kediaman raja
  2. Rumah Gajah Baliku, kediaman saudara dekat raja
  3. Rumah Gajah Manyusu, kediaman "pagustian" (bangsawan)
  4. Rumah Balai Laki, kediaman menteri dan punggawa
  5. Rumah Balai Bini, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuh
  6. Rumah Palimbangan, kediaman alim ulama dan saudagar
  7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah), penyimpanan barang-barang berharga (bendahara)
  8. Rumah Cacak Burung (Rumah Anjung Surung), kediaman rakyat biasa
  9. Rumah Tadah Alas
  10. Rumah Lanting, rumah di atas air
  11. Rumah Joglo Gudang
  12. Rumah Bangun Gudang

Jukung Banjar

Miniatur jukung gundul suku Banjar
Erik Petersen telah mengadakan penelitian tentang jukung Banjar dalam bukunya Jukungs Boat From The Barito Basin, Borneo. Jukung adalah transportasi khas Kalimantan. Ciri khasnya terletak pada teknik pembuatannya yang mempertahankan sistem pembakaran pada rongga batang kayu bulat yang akan dibuat menjadi jukung.[1][2][3][4][5]
Jenis Jukung:
  1. Jukung Sudur (rangkaan)
    1. Jukung Sudur Biasa
    2. Jukung Sudur Bakapih
    3. Jukung Sudur Anak Ripang
  2. Jukung Patai
    1. Jukung Biasa
    2. Jukung Hawaian
    3. Jukung Kuin
    4. Jukung Pelanjan
    5. Jukung Ripang Hatap
    6. Jukung Pemadang
  3. Jukung Batambit
    1. Jukung Tambangan[6]
    2. Jukung Babanciran
    3. Jukung Undaan
    4. Jukung Parahan
    5. Jukung Gundul
    6. Jukung Pandan Liris
    7. Jukung Tiung
Jenis perahu lainnya misalnya :
  1. Penes
  2. Kelotok

Wayang Banjar

Wayang Banjar terdiri dari :
  1. Wayang kulit Banjar
  2. Wayang gung/wayang Gong yaitu (wayang orang versi suku Banjar

Mamanda

Mamanda merupakan seni teater tradisonal suku Banjar.

Tradisi Bananagaan

  1. Naga Badudung
  2. Kepala Naga Gambar Sawit
  3. Kepala Naga Darat
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banjar
Share:

Blogger templates

musik

small rss seocips Music MP3
Ayo bro dengerin music ini !!!

mouse

Adventure Time - Lady Rainicorn

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support